Menag

Menteri Agama Tegaskan Takbiran di Bali Tetap Ada, Namun Tanpa Pengeras Suara Saat Nyepi

Menteri Agama Tegaskan Takbiran di Bali Tetap Ada, Namun Tanpa Pengeras Suara Saat Nyepi
Menteri Agama Tegaskan Takbiran di Bali Tetap Ada, Namun Tanpa Pengeras Suara Saat Nyepi

JAKARTA — Pemerintah memastikan pelaksanaan takbiran menjelang Hari Raya Idul Fitri di Bali tetap berlangsung dengan penyesuaian agar tidak mengganggu peringatan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 19 Maret mendatang. 

Kesepakatan tersebut diambil setelah adanya koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta tokoh masyarakat di Bali.

Menteri Agama Nasarudin Umar menegaskan bahwa pelaksanaan takbiran tetap diperbolehkan, namun harus dilakukan tanpa menggunakan pengeras suara pada waktu tertentu. Kebijakan ini diambil untuk menjaga kekhusyukan umat Hindu yang sedang menjalankan Nyepi, sekaligus memberi ruang bagi umat Islam untuk menyambut datangnya Idul Fitri.

Kesepakatan Pemerintah dan Tokoh Masyarakat

Menurut Nasarudin, keputusan tersebut telah melalui pembahasan bersama antara pemerintah dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat di Bali. Ia menyampaikan bahwa pemerintah berupaya memastikan kedua perayaan keagamaan dapat berlangsung dengan tetap menjaga toleransi.

“Alhamdulillah kami melapor kepada Bapak Presiden sudah ada kesepakatan dengan pemerintah setempat dan tokoh-tokok di Bali bahwa takbir itu tidak bertentangan dengan Nyepi cuma syaratnya,” tutur Nasarudin kepada awak media, di Istana Kepresidenan.

Ia menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

Takbiran Tanpa Sound System

Dalam kesepakatan tersebut, pelaksanaan takbiran tetap dapat dilakukan oleh umat Islam di Bali. Namun, kegiatan itu tidak diperkenankan menggunakan sound system atau pengeras suara.

Pembatasan ini berlaku pada rentang waktu pukul 18.00 hingga 21.00. Dengan pengaturan tersebut, umat Hindu tetap dapat menjalankan Nyepi dalam suasana hening yang menjadi ciri khas perayaan tersebut.

Di sisi lain, umat Islam juga tetap memiliki kesempatan untuk mengumandangkan takbir sebagai bentuk syukur dan kegembiraan menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Nyepi yang Identik dengan Suasana Hening

Hari Raya Nyepi merupakan salah satu perayaan penting bagi umat Hindu di Bali. Pada hari tersebut, seluruh aktivitas masyarakat di pulau tersebut dihentikan sementara.

Perayaan Nyepi identik dengan suasana sunyi tanpa aktivitas, tanpa suara bising, dan tanpa kendaraan di jalan. Bahkan berbagai fasilitas umum seperti bandara biasanya ikut menghentikan operasionalnya selama periode tersebut.

Karena itu, pemerintah berupaya memastikan tidak ada aktivitas yang dapat mengganggu kekhusyukan umat Hindu dalam menjalankan ibadah Nyepi.

Penentuan Idul Fitri Menunggu Sidang Isbat

Nasarudin juga menjelaskan bahwa perbedaan waktu serta dinamika pelaksanaan hari raya merupakan hal yang biasa terjadi di Indonesia. Menurutnya, masyarakat sudah terbiasa menghadapi situasi tersebut dengan sikap saling menghormati.

Ia menambahkan bahwa penetapan 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri masih menunggu hasil Sidang Isbat yang akan digelar pemerintah. Sidang tersebut nantinya akan menentukan secara resmi kapan umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri.

Selain membahas hal tersebut, Nasarudin juga melaporkan kepada Presiden mengenai rencana pembayaran zakat oleh Presiden beserta para pejabat negara. Agenda itu direncanakan akan dijadwalkan pelaksanaannya di Istana Negara sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index